Sudah terlalu lama mencoba. Sudah terlalu letih untuk sekedar mengelap keringat di perjalanan ini. Kakiku sudah lelah. Entah kenapa, hatiku ikut rapuh. Rasanya enggan beranjak untuk sekedar melangkahkan kaki.
“Aku berhenti di sini saja”, kataku.
Engkau hanya diam. Tak tampak upaya untuk meraih tanganku.
“Lanjutkan saja perjalananmu. Aku tak sanggup lagi. Ini
terlalu berat. Menguras emosi dan tenaga. Memeras peluh dan air mata. Biarkan
aku disini. Memberi jeda kepada hati. Member kesempatan menyembuhkan diri.
Lanjutkan saja, aku tidak melarangmu.”
Kamu pun melangkah menjauh. Ya, sejak hari itu aku tahu,
kamu hanya akan jadi masa lalu sebagaimana kamu berlalu. Memang aku yang
melepasmu, dan kau pun tak ingin menunggu. Kamu lebih suka sendiri. Lalu apa
lagi? Semua selesai. Namun aku tak menyesal melangkah sejauh ini. Tak seperti
dirimu, yang terang terangan berkata menyesalinya. Tak apa. Sekali lagi, kamu
hanya akan jadi masa lalu. Boleh jadi sesekali ku toleh, namun tidak mungkin
kembali.
Begitu rumit memang, padahal mereka bilang cinta itu
sederhana. Lantas ini apa? Entahlah. Yang ku tahu jatuh cinta padamu adalah
patah hati paling disengaja.
